Angin bertiup sedikit lebih kencang dari biasanya dan membawa debu
pasir gurun hingga ke halaman , setelah kemegahan pesta semalam entah
mengapa suasana pagi ini terasa sangat tenang, di taman samping kulihat
Sana berdiri berdampingan dengan Rasad , mereka terlihat sedang
berbincang dengan serius. “ Sepertinya sangat tidak tepat untuk menyapa
mereka “ bisikku dalam hati. Berputar dan melewati alun alun merasakan
hembusan angin yang semilir , untuk sejenak kurasakan tubuhku berada di
alam yang lain.Tapi tiba tiba lamunan ku di buyarkan oleh pemandangan
yang sangat mengganggu. Disudut ruangan berdiri Ziyad yang sedang
melancarkan rayuan nya pada salah seorang dayang.
“
Apa yang kau lakukan di pagi hari Ziyad “ tegurku sembari menarik kuat
daun telinga Ziyad. “ Awww Layanah… kenapa kau menarik telingaku “ Ujar
Ziyad , dengan sigap sang dayang itu pun kabur , kurasa dia merasa tidak
enak pada ku. “ Kenapa di pagi hari aku harus mendapati pemandangan kau
yang sedang merayu wanita “ ujarku lagi sambil berlalu pelan. “ Kau
cemburu Layanah ?” Tanya Ziyad jahil. “ Apa wajah ku terlihat cemburu
Ziyad?” tanyaku dan memutar tubuhku menghadap Ziyad. “ Ahaahahah kau
memang menarik Layanah , hum dimana Sana ? sepertinya tadi dia tergesa
gesa mencari mu karna ingin mengajak mu ke pasar, karna hari ini akan
ada perayaan dan pasar akan di penuhi kemeriahan yang sangat menarik”
Tanya Ziyad . “ Sana sedang bericara dengan kak Rasad di taman samping,
sepertinya obrolan mereka serius dan aku merasa tak enak bila menyela
pembicaraan mereka “ Jelasku.
Tiba tiba
saja suara Sana menggema di udara “ LAYANAAAAH …. Ternyata kau disini”
seru Sana dengan terengah engah. “ Sana… kenapa kau berlarian seperti
itu” tanyaku kaget. “Sudahlah nanti akan ku jelaskan sekarang kita harus
bergegas karna festival di pasar akan segera dimulai ayooo. Ziyad kau
juga harus ikut Rasad sudah menunggu di pintu gerbang “ ujar Sana.
“tapi.. kita harus pamit pada paman Ameer dan kakak ku” cetus ku . “Aku
sudah memberi tahu ayah dan kakak mu ayo hari ini kita akan bermain
sampai puas “ terang Sana dengan masih menarik tangan ku dan berlari
kearah gerbang. “ Rasaaaad .. maaf kami membuat mu menunggu “ Teriak
Sana. “ Hooh semua sudah berkumpul , ayo kita segera bergegas pergi
sebelum jalan di penuhi dengan orang dan musafir yang datang untuk
menyaksikan festival “ Rasad berbicara dengan raut wajah yang sedikit
lain dari biasanya.
Jalan jalan di pasar
di penuhi dengan hiasan indah dan gemerlap banyak orang berkumpul dan
melihat festival, para pedagang pun bertambah di lorong lorong, mereka
menjajalkan kain tenun indah dan hasan rambut yang juga tak kalah indah,
para pengrajin memintal dengan riang dan beberapa anak muda beratraksi
memeriahkan suasana, dan saat ku ankat kepalaku menatap ke atas terlihat
sulur tali yang menghiasi dari satu bangunan ke bangunan yang lain
terjalin indah dan mengesankan, siapa yang akan menyangka kalau kota ini
terletak di tengah gurun pasir gersang . gemericik air, suara gendang
yang di tabuh dan alunan seruling dari seorang pawang ular bersahut
sahutan
“ Layanah .. hati hati dengan langkahmu
bila kau terus melamun seperti itu maka kau akan terjatuh “ tiba tiba
suara Ziyad mengejutkan ku .” Aku tahu dan aku tidak melamun hanya
terpesona saja “ gerutu ku.”Layanah lihat hiasan rambut ini sangat indah
aku mau membelinya bagaimana menurutmu ?” Tanya Sana. “Indah… kurasa
akan semakin terlihat indah di rambutmu yang hitam Sana” jawabku.
“Benarkah , baiklah kalau begitu aku akan membelinya, paman aku minta
hiasan rambut ini dua “ Ujar Sana pada paman penjual . “Dua ..? “tanyaku
bingung. “Ya dua, satu untukku dan satu lagi untuk mu “ Sana memberikan
hiasan rambut indah itu padaku. “ Terima kasih Sana “ .betapa senang
nya perasaanku saat menerima hiasan rambut itu dari Sana. “ Aa~~h Rasad
belikan aku sesuatu bukan kah kita adalah teman yang akrab “ pinta Ziyad
manja sambil melingkarkan tangan nya ke pundak Rasad. “ Baiklah aku
akan membelikan mu hiasan rambut yang sama dengan Sana dan Layanah “
sahut Rasad jahil. “AHAHHAHAHAHAHAHAHHAHA “ Tiba tiba saja tawa ku dan
Sana memecah keriuhan pasar. “ Apa kau bercanda Rasad, Sana dan Layanah
hentikan tawa kalian itu “ Ziyad dengan wajah yang memerah karna malu
mengejar kami yang berlarian di kerumunan pasar.
Tanpa
terasa malam menjemput dan lampu lampu jalan dan lorong mulai menyala,
kilauan api obor membuat suasana semakin meriah, tanpa sadar kaki ku
melangkah mengikuti hiruk pikuk festival yang masih terus berlangsung
dan tiba tiba langkahku terhenti di sebuah taman, disana terlihat para
penari cantik sedang menari untuk menghibur orang orang , begitu indah
liukan tubuh penari itu membuat mataku hanya dapat menatap lurus ke
depan, “ Sana , kak Rasad lihat penampilan penari itu sangat lincah dan
indah “ Ujarku sembari melihat kebelakang, akan tetapi saat ku putar
tubuhku ke belakang ternyata kak Rasad dan Sana tak ada di belakangku,
oh tuhan ternyata aku tersesat di dalam keramaian ini mustahil untuk
menemukan mereka, seperti terkena sengatan ubur ubur kepanikanku
bertambah dan semakin bertambah,lalu tiba tiba lenganku ditarik oleh
seseorang. “Layanah … akhirnya kutemukan kau .” seru Ziyad sambil
terengah engah .” Kau membuat ku cemas, bukan kah sudah ku bilang jangan
sampai terpisah “ Lanjutnya. “Maaf .. aku tidak menyangka akan tersesat
.” Entah itu karna takut atau lega tapi air mataku mengalir begitu
melihat Ziyad. “ Sudahlah tenangkan dirimu “ Ziyad menarikku keluar dari
kerumunan
“Ini minumlah “ Ziyad
memberiku secangkir susu panas. “Terima kasih “ Kuambil gelas itu dan
meneguknya dan kurasakan kecemasanku berangsur angsur larut seperti
terbawa air , ku rasakan Ziyad yang terus menatap wajahku dan itu
membuat jantunggu berdetak dengan sangat kencang . “aku sudah tenang
Ziyad kau tak perlu cemas “ ujarku. “Baiklah kalau begitu ayo kita
segera pulang ,karna aku yakin saat ini Sana dan Rasad pasti cemas“ .
Ziyad
berdiri dan menaruh gelas susu di atas meja. “Layanah ….” Tiba tiba
Ziyad memanggilku lembut . “Ya ada apa “ jawabku sembari berdiri dan
menghadap Ziyad. Dan tiba tiba aku dikejutkan dengan sebuah pelukan
hangat “ Zi..yad ?” dan kata kataku pun terputus karna tiba tiba
kurasakan bibir lembut Ziyad di bibirku, ya tuhan kami berciuman di
depan begitu banyak orang dan membuat fikiran ku kacau seperti sebuah
badai gurun dahsyat.
“ Ayo kita segera pulang “ Bisik Ziyad di telinga ku lembut . “ hu-um “ anggukku pelan.
Ya
tuhan apa yang terjadi? Dan mengapa hati ku terus berdebar dengan
kencang , malam itu menyusuri jalan yang dihiasi obor bersama Ziyad yang
kulakukan hanyalah menunduk dan tak berani menatap wajah Ziyad,yang
kulakukan hanyalah menatap jalan dan sekilas melirik kea rah punggung
Ziyad yang besar dan bidang sehingga membuat debaran hatiku semakin
cepat dan cepat tanpa bisa kukendalikan. Manis bagaikan buah kurma yang
matang sempurna akan tetapi dalam waktu bersamaan juga terasa menusuk
dan nyeri bagikan terkena tusukan duri kaktus padang pasir , apakah ini
yang disebut cinta oleh para pujangga.