flower

Selasa, 18 Agustus 2015

səhra ( Part III )

Angin bertiup sedikit lebih  kencang  dari biasanya dan membawa debu pasir gurun hingga ke halaman , setelah kemegahan pesta semalam entah mengapa suasana pagi ini terasa sangat  tenang, di taman samping kulihat Sana berdiri berdampingan dengan Rasad , mereka terlihat sedang berbincang dengan serius. “ Sepertinya sangat tidak tepat untuk menyapa mereka “ bisikku dalam hati. Berputar dan melewati alun alun merasakan hembusan angin yang semilir , untuk sejenak kurasakan tubuhku berada di alam yang lain.Tapi tiba tiba lamunan ku di buyarkan oleh pemandangan yang sangat mengganggu. Disudut ruangan berdiri Ziyad yang sedang melancarkan rayuan nya pada salah seorang dayang.



“ Apa yang kau lakukan di pagi hari Ziyad “ tegurku sembari menarik kuat daun telinga Ziyad. “ Awww Layanah… kenapa kau menarik telingaku “ Ujar Ziyad , dengan sigap sang dayang itu pun kabur , kurasa dia merasa tidak enak pada ku. “ Kenapa di pagi hari aku harus mendapati pemandangan kau yang sedang merayu wanita “ ujarku lagi sambil berlalu pelan. “ Kau cemburu Layanah ?” Tanya Ziyad jahil. “ Apa wajah ku terlihat cemburu Ziyad?” tanyaku dan memutar tubuhku menghadap Ziyad. “ Ahaahahah kau memang menarik Layanah , hum dimana Sana ? sepertinya tadi dia tergesa gesa mencari mu karna ingin mengajak mu ke pasar, karna hari ini akan ada perayaan dan pasar akan di penuhi kemeriahan yang sangat menarik” Tanya Ziyad . “ Sana sedang bericara dengan kak Rasad di taman samping, sepertinya obrolan mereka serius dan aku merasa tak enak bila menyela pembicaraan mereka  “ Jelasku.



Tiba tiba saja suara Sana menggema di udara “ LAYANAAAAH …. Ternyata kau disini” seru Sana dengan terengah engah. “ Sana… kenapa kau berlarian seperti itu” tanyaku kaget. “Sudahlah nanti akan ku jelaskan sekarang kita harus bergegas karna festival di pasar akan segera dimulai ayooo. Ziyad kau juga harus ikut Rasad sudah menunggu di pintu gerbang “ ujar Sana. “tapi.. kita harus pamit pada paman Ameer dan kakak ku” cetus ku . “Aku sudah memberi tahu ayah dan kakak mu ayo hari ini kita akan bermain sampai puas “ terang Sana dengan masih menarik tangan ku dan berlari kearah gerbang. “ Rasaaaad .. maaf kami membuat mu menunggu “ Teriak Sana. “ Hooh semua sudah berkumpul , ayo kita segera bergegas pergi sebelum jalan di penuhi dengan orang dan musafir yang datang untuk menyaksikan festival “ Rasad berbicara dengan raut wajah yang sedikit lain dari biasanya.



Jalan jalan di pasar di penuhi dengan hiasan indah dan gemerlap banyak orang berkumpul dan melihat festival, para pedagang pun bertambah di lorong lorong, mereka menjajalkan kain tenun indah dan hasan rambut yang juga tak kalah indah, para pengrajin memintal dengan riang dan beberapa anak muda beratraksi memeriahkan suasana, dan saat ku ankat kepalaku menatap ke atas terlihat sulur tali yang menghiasi dari satu bangunan  ke bangunan yang lain terjalin indah dan mengesankan, siapa yang akan menyangka kalau kota ini terletak di tengah gurun pasir gersang . gemericik air, suara gendang yang di tabuh dan alunan seruling dari seorang pawang ular bersahut sahutan


“ Layanah .. hati hati dengan langkahmu bila kau terus melamun seperti itu maka kau akan terjatuh “ tiba tiba suara Ziyad mengejutkan ku .” Aku tahu dan aku tidak melamun hanya terpesona saja “ gerutu ku.”Layanah lihat hiasan rambut ini sangat indah aku mau membelinya bagaimana menurutmu ?” Tanya Sana. “Indah… kurasa akan semakin terlihat indah di rambutmu yang hitam Sana” jawabku. “Benarkah , baiklah kalau begitu aku akan membelinya, paman aku minta hiasan rambut ini dua “ Ujar Sana pada paman penjual . “Dua ..? “tanyaku bingung. “Ya dua, satu untukku dan satu lagi untuk mu “ Sana memberikan hiasan rambut indah itu padaku. “ Terima kasih Sana “ .betapa senang nya perasaanku saat menerima hiasan rambut itu dari Sana. “ Aa~~h Rasad belikan aku sesuatu bukan kah kita adalah teman yang akrab “ pinta Ziyad manja sambil melingkarkan tangan nya ke pundak Rasad. “ Baiklah aku akan membelikan mu hiasan rambut yang sama dengan Sana dan Layanah “ sahut Rasad jahil. “AHAHHAHAHAHAHAHAHHAHA “ Tiba tiba saja tawa ku dan Sana memecah keriuhan pasar. “ Apa kau bercanda Rasad, Sana dan Layanah hentikan tawa kalian itu “ Ziyad dengan wajah yang memerah karna malu mengejar kami yang berlarian di kerumunan pasar.




Tanpa terasa malam menjemput dan lampu lampu jalan dan lorong mulai menyala, kilauan api obor membuat suasana semakin meriah, tanpa sadar kaki ku melangkah mengikuti hiruk pikuk festival yang masih terus berlangsung dan tiba tiba langkahku terhenti di sebuah taman, disana terlihat para penari cantik sedang menari untuk menghibur orang orang , begitu indah liukan tubuh penari itu membuat mataku hanya dapat menatap lurus ke depan, “ Sana , kak Rasad lihat penampilan penari itu sangat lincah dan indah “ Ujarku sembari melihat kebelakang, akan tetapi saat ku putar tubuhku ke belakang ternyata kak Rasad dan Sana tak ada di belakangku, oh tuhan ternyata aku tersesat di dalam keramaian ini mustahil untuk menemukan mereka, seperti terkena sengatan ubur ubur kepanikanku bertambah dan semakin bertambah,lalu tiba tiba lenganku ditarik oleh seseorang. “Layanah … akhirnya kutemukan kau .” seru Ziyad sambil terengah engah .” Kau membuat ku cemas, bukan kah sudah ku bilang jangan sampai terpisah “ Lanjutnya. “Maaf .. aku tidak menyangka akan tersesat .” Entah itu karna takut atau lega tapi air mataku mengalir begitu melihat Ziyad. “ Sudahlah tenangkan dirimu “ Ziyad menarikku keluar dari kerumunan




“Ini minumlah “ Ziyad memberiku secangkir susu panas. “Terima kasih “ Kuambil gelas itu dan meneguknya dan kurasakan kecemasanku berangsur angsur larut seperti terbawa air , ku rasakan Ziyad yang terus menatap wajahku dan itu membuat jantunggu berdetak dengan sangat kencang . “aku sudah tenang Ziyad kau tak perlu cemas “ ujarku. “Baiklah kalau begitu ayo kita segera pulang ,karna aku yakin saat ini Sana dan Rasad pasti cemas“ .
Ziyad berdiri dan menaruh gelas susu di atas meja. “Layanah ….” Tiba tiba Ziyad memanggilku lembut . “Ya ada apa “ jawabku sembari berdiri dan menghadap Ziyad. Dan tiba tiba aku dikejutkan dengan sebuah pelukan hangat “ Zi..yad ?” dan kata kataku pun terputus karna tiba tiba kurasakan bibir lembut Ziyad di bibirku, ya tuhan kami berciuman di depan begitu banyak orang dan membuat fikiran ku kacau seperti sebuah badai gurun dahsyat.
“ Ayo kita segera pulang “ Bisik Ziyad di telinga ku lembut . “ hu-um “ anggukku pelan.


Ya tuhan apa yang terjadi? Dan mengapa hati ku terus berdebar dengan kencang , malam itu menyusuri jalan yang dihiasi obor bersama Ziyad yang kulakukan hanyalah menunduk dan tak berani menatap wajah  Ziyad,yang kulakukan hanyalah menatap jalan dan sekilas melirik kea rah punggung Ziyad yang besar dan bidang sehingga membuat debaran hatiku semakin cepat dan cepat  tanpa bisa kukendalikan. Manis bagaikan buah kurma yang matang sempurna akan tetapi dalam waktu bersamaan juga terasa menusuk dan nyeri bagikan terkena tusukan duri kaktus padang pasir , apakah ini yang disebut cinta oleh para pujangga.