flower

Kamis, 13 Agustus 2015

səhra (Part II)

Menyusuri lorong lorong megah di kediaman paman Ameer, kakiku terus melangkah di belakang kedua saudaraku sembari terkagum kagum dan masih belum dapat ku percaya bahwa kami tiga bersaudara akan dirawat oleh seorang saudagar kaya yang merupakan teman semasa kecil ibu dan  paman Isaq

“ahk kalian sudah bangun ayo kemari sarapan sudah disiapkan , dan perkenalkan ini adalah putriku satu satu nya Sana” .dari balik tubuh paman ameer terlihat seorang anak wanita seumuran dengan ku, rambutnya yang halus bagaikan sutra berwarna hitam mengkilap bak permata dengan tubuh yang indah dan wajah yang bagaikan dewi. “Kuharap kalian bisa menjadi teman akrab terutama kau Layanah “ seru paman ameer.
“Namamu Layanah ? aku Sana , sepertinya kita bisa menjadi teman yang akrab ya Layanah “ ujar gadis itu lembut sembari menarik tangan ku . “A..ahk ia kuharap juga begitu Sana “ jawabku ragu.


Setelah  menyantap sarapan yang begitu lezat kami pergi ke alun alun untuk mempersiapkan pesta yang akan diadakan di rumah ini, kami akan menari dan bermusik untuk memeriahkan suasana pesta. Kupakai gemerincing di kaki dan tanganku , melempar selendang sutra dan meliukkan tubuhku mengikuti irama musik .tiba tiba tarianku terhenti oleh suara seseorang . “Heeeh jadi kau anak angkat paman yang baru saja sampai disini “ seru seorang pria yang sepertinya seumuran dengan ku. “ Ziyad hentikan itu !! bukankah sudah kubilang agar kau memperhalus cara bicaramu, dan satu lagi jangan berani mengganggu Layanah “ Seru Sana dari balik tiang . “ Sana…” tegurku.
“ Layanah maaf aku sudah mengganggu latihan mu, perkenalkan anak badung itu bernama Ziyad , dan yang berada di samping ku ini Rasad mereka merupakan sepupuku “ jelas Sana. “ Salam kenal Layanah kuharap kau bisa nyaman tinggal disini dan kita bisa menjadi teman yang akrab “ Sela Rasad. “ Baiklah Layanah apa kami boleh berada disini melihatmu berlatih menari “ Seru pria bernama Ziyad .” Ziyad sebaiknya kita jangan menggagu Layanah “bantah Rasad. “Tidak apa apa kalian bisa berada disini aku tidak merasa terganggu “ Jawabku. “Benarkah ….. ahk beruntungnya terimakasih Layanah “ Sana berseru girang dan segera duduk dan melihat ku menari.


 Ziyad dan Rasad yang merupakn sepupu dari Sana adalah dua orang pemuda yang sangat bertolak belakang, Ziyad merupakan seorang pria yang sepertinya sangat suka bermain dan merayu wanita yah setidaknya itulah yang terlihat dari gerak geriknya wajah tampan berkulit putih dengan rambut hitam yang panjang dan indah , bibirnya merah bagaikan darah dengan mata nakalnya yang menawan. Sedangkan Rasad sepertinya tipe serius yang selalu menjaga sikap yah mungkin karna usianya terpaut diatas kami bertiga perawakan yang tinggi penampilannya pun sangat elegan tata bahasa yang sopan dan sangat ramah juga baik. Kuharap kami berempat dapat segera menjadi teman yang akrab.


Malam hari dikediaman paman Ameer , aula indah berhiaskan lampu lampu kristal yang indah, hidangan lezat yang tersedia diatas meja , dan tempat duduk indah beralaskan kulit harimau berkwalitas tinggi, malam ini merupakan acara ulang tahun paman Ameer . Seluruh rekan dagang dari berbagai penjuru Negara datang berbondong bondong dengan membawa hadiah hadiah luar biasa dan untaian doa pun bersahutan.
“Terima kasih pada teman teman yang telah datang ke rumah ku yang sederhana ini, malam ini adalah hari ulang tahun ku mari kita semua menikmati hidangan yang telah terhidang dan hiburan yang akan ditampilkan oleh anak angkatku Layanah “ Suara lantang paman ameer mengalahkan suara tepuk tangan yang saling bersahutan.

Ditengah aula dentingan kecapi dan alunan suling mengiringi gemerincing kaki ku saat menari, semua mata terpusat pada ku sehingga membuatku merasa sedikit gugup , “aahk baru kali ini aku menari dengan pakaian indah dan disaksikan oleh beratus pasang mata” gumamku dalam hati. Kulihat disamping paman ameer Sana yang sedang duduk dengan anggun nya, juga disudut ruangan sebelah kiri kulihat Ziyad sedang merayu gadis gadis, kulanjutkan tarianku tapi tak terasa dentingan musik mulai menjauh yang mengisyaratkan tarianku agar berhenti, Suara tepuk tangan bergema diaula yang besar ini suatu kepuasan yang tak terbendung dihatiku, saat sedang berjalan menuju keluar ruangan, aku dikagetkan oleh suara dari balik jendela besar disampingku “Sungguh tarian yang indah, kau bagaikan burung yang terbang “ . Rasad berjalan kearahku dari balik jendela . “ ahk ternyata kau kak rasad, terima kasih atas pujianmu kukira kau tak berada disini karna aku tidak melihat mu. “ Jawabku. “ahahhhaha yah aku memang tidak terlalu suka dengan keramaian maka dari itu lah aku bersembunyi di beranda, tapi mataku terpesona oleh tarian seorang gadis kecil “ Ujarnya sambil tertawa dan menepuk kepalaku pelan. “ Kau memperlakukan ku seperti anak kecil kak “ Kusisihkan tangan besar kak rasad dari kepalaku . “ Ups maaf kan aku ya anti… karna telah bersikap tidak sopan dengan memperlakukan mu seperti anak kecil “ Rasad membungkuk dan mengayunkan tangan nya kehidung dan dahinya memberi salam padaku. “ Kau membuatku malu kak.. baiklah sepertinya aku harus pergi dan berganti pakaian “ Ujarku menahan malu yang bahkan telah membuat wajahku memerah.
 “ Ahahaha reaksimu benar benar menarik Layanah, baiklah kalau begitu “  ujar Rasad lagi.


Ya tuhaaaaaaaaaan perlakuan kak Rasad benar benar diluar dugaan membuat ku menjadi salah tingkah , kukira dia bukan lah lelaki yang suka menjahili wanita tapi ternyata aaarghk . “Layanah …!?” terdengar sebuah suara memanggil namaku dari belakang . “Sana… apa yang kau lakukan disini? Bukankah seharusnya kau berada di aula bersama paman Ameer “ Tanyaku bingung. “ Huh aku bosan berada diasana jadi diam diam aku kabur dan kebetulan aku melihatmu “ Jawab Sana singkat. “ Bukankah itu tidak baik “ selaku. “Tenang saja aku sudah biasa menyelinap seperti ini, huum ayo ikut aku Layanah” Ajak Sana sambil menarik tanagnku . “Hendak kemana kita? “Tanayaku . “Ikuti saja kita akan ketaman belakang disana Ziyad dan Rasad sudah menunggu , kami selalu menyelinap untuk menghindari keramaian pesta “ Sara berbicara dengan senyuman di wajah nya.

“Ziyaaad, Rasaad ahahahh ternyata kalian sudah disini, lihat kebetulan aku bertemu Layanah jadi ku ajak dia kesini , oh ia Layanah kau tunggu disini bersama Ziyad aku dan Rasad akan mengambil makanan dan minuman , sebentar saja kami akan kembali“ujar Sana dan berlalu bersama Rasad. Dibelakang paviliun terdapat sebuah taman luas dan kolam dengan mimbar di tengah nya . “Waaah indah nya tempat ini bintang dan bulan terlihat sangat jelas “ Tanpa sadar aku berputar dengan wajah yang mengadah kelangit.

“Bila kau melihat keatas maka kau akan tersandung dan jatuh Layanah” Bisik Ziyad di telingaku. “A..aku tidak apa apa “ balasku parau. “Kau begitu cantik saat menari Layanah… seperti air yang tertumpah dari ngarai “ Ucap Ziyad. “Te..terima kasih ku kira kau tak memperhatikan karna sibuk merayu para wanita di aula tadi “ ujarku berusaha tenang.”Ahhahah aku memperhatikan tarianmu dari awal Layanah, “ . Ucapan Ziyad membuat jantungku berdebar ditambah lagi ZIyad terlihat sangat indah saat sinar bulan menerpa wajah nya, “Layanaaaaaaah kami sudah menyiapkan makanan dan minuman ayo kita bersantai sambil menikmati bintang malam ini, ahk aku punya ide bagaimana kalau Layanah menari untuk kita” Pinta Sana. “ Tapi… akuu“ujarku bingung . “Itu merupakan ide yang bagus ayo lah Layanah aku setuju dengan ide Sana , bagaimana dengan mu Rasad?” Tanya Ziyad dan melemparkan pandangan pada Rasad.” Aku setuju” jawab Rasad singkat. “huum baiklah “ jawabku ragu .


Malam yang tenang di sirami oleh sinar bulan, menari diatas mimbar di tengah kolam besar yang tak kalah indahnya suara alam dan binatang malam menjadi musik yang mengiringi tarianku, bunyi gemerincing air dan gelang kakaiku menyatu, tapi hanya debaran dihatiku yang tak dapat kukendalikan, dibutakan oleh kata kata dan sosok indah Ziyad yang masih terngiang menghiasi pupil mataku. Malam ini tarianku adalah untuk nya.

Tidak ada komentar: